Header AD Image

Kecimol: Kelalah Cikar Montor Liwat

Bagikan Artikel
Read Time:4 Minute, 21 Second

“Ape kenen kecimol? kelalah cikar dokar montor liwat!!” seru TGH Lalu Supardan, saat mengisi ceramah disalah satu masjid di Lombok..

Musik, merupakan bahasa universal yang diterima dan disukai oleh semua kalangan, dari kalangan bawah hingga kalangan paling atas sekalipun. Musik juga, menjadi media ekspresi yang dapat mempertemukan semua orang di tengah-tengah keragaman budaya, bahasa dan tradisi. Musik menjadi rekan yang senatiasa hadir dalam berbagai ruang. Bahkan dalam perayaan-perayaan tradisi, suku sasak diantaranya.

Seperti seni musik pada umumnya, musik dalam konsep sasak sama-sama memperhatikan konsep etika dan estetika secara universal, yang dalam penerapannya menggunakan konsep tradisi, yaitu “semaiq” dan “paut” kesederhanaan dan kepantasan. Pada konsep “semaiq” mengandung makna tidak mengada-ada, tidak berlebihan tetapi dapat dinikmati dan dimaknai. Sementara itu, konsep “paut” mengandung pengertian nilai-nilai kejujuran dalam berekspresi, realistik, karya yang sejalan dengan norma sosial maupun susila. Bahkan kedua konsep ini juga, ditegaskan oleh para pemikir di Barat, seni tidak melulu menyoal ekspresi semata. John Hopers misalnya, dalam karangannya tentang “The Philoshopy of Art” mengatakan seni sebagai sebuah arti atas kebenaran dan pengetahuan, yang didalamnya terdapat Moralisme dan Estetisisme.

Meski kedua konsep tersebut berbeda, namun Plato dalam Republik dan Laws menegaskan bahwa moral dan estetik ini berhubungan intim. Dan tidak akan berfungsi secara keseluruhan tanpa yang lain.

Berangkat dari dua hal itu, belakangan, kita melihat beberapa produk kesenian musik sasak mulai keluar dari konsep yang dimaksud. Entah karena keterbatasan pengetahuan musikal atau mungkin hal lain. Sebut saja Kecimol, tak ada yang salah soal kebebasan berekspresi, namun apakah telah sesui dengan konsep paut dan mencerminkan moralitas? terlebih dengan penduduk muslim kita yang mayoritas? atau produk-produk kesenian jajajan (industri) wisata, yang belakangan mulai keluar dari konsep semaiq. Bukan hanya musik, namun secara keseluruhan. Meski tak semua, namun ada banyak hal yang terlalu di lebih-lebihkan, bahkan kerap kali di ada-adakan.

Sebagai orang yang telah menempuh dan menyelesaikan studi musik sejak 9 tahun lalu. Dan sempat menuliskan buku Ilmiah populer tentang musik tradisional Sasak. Sering kali, didalam diskursus-diskurus yang saya ikuti, muncul pertanyaan apakah musik Kecimol merupakan tradisi kita? Dengan tegas tentu saya menjawab tidak, namun dengan kompisisi musikal dan fungsinya yang hari ini.

Kita ketahui Karl-Edmund Prier, pendiri Pusat Musik Liturgi di Yogyakarta misalnya, mengatakan bahwa istilah tradisi berarti bahwa suatu warisan dari masa lampau masih berlangsung terus sampai masa kini. Hal ini dapat terjadi secara statis (tradisionalisme) dimana warisan dipandang sebagai pusaka yang harus dijaga secara utuh.

Dalam pengertian itu, saya ingin menggaris bawahi kata utuh dan pusaka. Utuh didalam KBBI diartikan sebagai keadaan sempurna (tidak berubah, tidak rusak). Namun jika menilik instrumen yang ada di Kecimol, didalamnya tentu terdapat beberapa alat musik luar, seperti drum, atau gitar yang berasal dari spanyol. Sedangkan pusaka, jika berpegangan pada Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia (2003) merupakan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia.

Artinya, jika mengacu pada kedua pandangan ini, saya rasa perdebatan soal keberadaan kecimol hari ini, sudah dapat terjawab.

Kita ketahui, dalam adat pernikahan suku sasak terdapat sebuah prosesi yang dinamakan nyongkolan, dalam tradisi ini tentu ada maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pihak mempelai pria kepada mempelai perempuan dengan merayakannya sepanjang perjalanan, salah satu tujuannya ialah menyampaikan kabar suka cita kepada sanak saudara serta masyarakat sekitar, bahwa telah berangsungnya sebuah pernikahan.

Nyongkolan bermaksud mengajak masyarakat yang melihat, agar turut serta dalam kebahagian kedua mempelai tersebut. Dalam proses perayaan inilah muncul kesenian musik tradisional yang kita kenal dengan nama Gendang Beleq. Seni musik yang menjadi pengiring pengantin ini, bukan saja sebatas ekspresi, sebab bagi saya, ini tidak dapat dilepaskan dari prosesi nyongkolan itu sendiri. Bahkan dapat dikatakan nyongkolan adalah gendang beleq itu sendiri, terlebih jika kita membaca dari kacamata kebudayaan, gendang beleq memiliki sejarah serta keunikan tersendiri bagi masyarakat sasak. Keunikan yang tidak dimiliki oleh kebudayaan lain, bahkan di dunia, itulah sebabnya di era globalisasi hari ini sebuah tradisi menjadi sangat penting untuk menjaga jati diri bangsa.

Seiring perkembangan zaman, terjadi banyak perubahan yang sangat cepat. Jika sebelumnya gendang beleq menjadi musik pengiring pengantin, akhir-akhir ini banyak kita temukan prosesi nyongkolan tidak lagi menggunakan gendang beleq sebagai pengiring, namun telah berubah diiringi musik modern diisi lagu-lagu populer yang sedang viral di masyarakat, oleh kelompok musik kecimol itu sendiri. Namun ada hal yang patut disorot dalam dinamika nyongkolan menggunakan Kecimol ini secara berlebihan. Tentu, bukan tidak mungkin gendeng beleq secara tidak langsung mulai terpinggirkan sebagai musik pengiring dalam tradisi nyongkolan. Dan jika gendang beleq sudah terpinggirkan, kemudian digantikan dengan musik-musik modern, lalu tradisi dan keunikan apalagi yang masyarakat Sasak miliki? Lalu apalagi yang dapat kita banggakan sebagai tradisi Sasak selama ini?

Tentu gendeng beleq bukan satu-satunya seni tradisi masyarakat sasak, namun gendang beleq merupakan bagian dan representasi dari tradisi sasak yang bagi saya sangat layak untuk dipertahankan serta dilestarikan. Sehingga dalam hal ini, saya hanya ingin mengajak para pembaca agar muncul kesadaran bahwa tradisi nyongkolan, bukan sebatas kegiatan senang-senang belaka. Lebih dari itu, tradisi nyongkolan dan gendang beleq telah menjadi bagian dari sejarah, pengalaman, hingga sarana dalam melegetimasi kehidupan tradisi suku sasak melalui sebuah prosesi adat pernikahannya.

 

Lalu Gitan (Penulis) Akademisi musik yang gagal manggung. Dan tokoh kebudayaan, cuman kurang tua.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Malam Puncak Pesona Bau Nyale, Berikut Rangkaian Acaranya
Next post Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Pengadian Masyarakat di Sekolah Pesisi Juang Mataram
https://permatajingga.com/ Slot Thailand Situs Slot