Header AD Image

Hindari Pajak, Warung Bakso di Lombok Tengah Terbukti Manipulasi Pendapatan

Bagikan Artikel
Read Time:1 Minute, 50 Second

Lombok Tengah – Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Lombok Tengah Baiq Aluh Windayu mengaku sering dikibuli oleh dua pemilik warung bakso di Praya, hal ini terkait nilai pajak yang harus mereka bayarkan.

Hal itu diungkapkan Aluh sapaannya saat menggelar konferensi pers di Media Center Diskominfo Lombok Tengah, Senin (4/9/23).

Aluh menceritakan bahwa, sebelum ada tindakan tegas dari Pemda terkait dengan penarikan pajak ini, kedua pemilik warung tersebut hanya melaporkan penghasilan mereka secara asal-asalan.

Dia minilai bahwa terdapat kejanggalan berdasarkan laporan pedagang bakso terkait jumlah penjualan per hari.

Salah satu contohnya adalah pedagang bakso MBA yang terletak di Selatan perempatan Masjid Agung.

“MBA melaporkan penghasilan mereka hanya Rp 133 Ribu perhari. Berarti ada delapan setengah mangkok yang laku setiap hari,” katanya kepada awak media.

Angka tersebut dihasilkan dengan mengikuti harga bakso perporsinya di tempat tersebut.

“Kami hitung satu mangkok itu Rp 16 Ribu ya,” ucapnya.

Keterangan MBA itu kemudian dinilai sangat janggal dan tidak masuk akal. Hal itu pun yang membuat Bappenda turun ke lokasi melakukan introgasi di lapangan.

Begitu dengan MBA, beda lagi dengan pemilik warung bakso lainnya yang berada di Utara Masjid Agung akrab dikenal dengan nama Bakso Marem malah lebih janggal laporannya.

“Bakso Marem ini bayarnya Rp 250 Ribu sebulan. Artinya, dalam satu bulan jika dibagi 30 hari maka pendapatannya hanya Rp 66 Ribu perhari,” sebutnya.

“Marem itu yang di pojok utara ya, hanya 4 Mangkok yang laku perhari,” sambungnya.

Alhasil, Bappenda Lombok Tengah menemukan bahwa, penjualan sehari mencapai 150 Mangkok dengan total keuntungan hingga Rp 72 Juta perbulan.

“Nah pas dihitung Rp 72 Juta perbulan, jika dikali 10 Persen jadi Rp 7,2 Juta perbulan,” imbuh Aluh.

Kemudian Bappenda kembali mendatangi Warung MBA untuk melakukan uji petik, mereka dari pagi sampai malam di sana.

“Dalam sehari ketemu angka 113 tambah 313 Jadi 400an Mangkok dalam sehari. Dan ini hanya bakso saja, belum teh, kacang dan lontong,” beber Aluh.

Menurut Aluh, dasarnya menyampaikan hal itu sesuai data real yang pihaknya temukan di lapangan.

“Kami tidak berani keluar dari aturan,” tandas Aluh.

Sedangkan untuk Warung Bakso Sempro di Kecamatan Kopang malah tidak pernah membayar pajak sama sekali semenjak berdiri.

“Itu belum pernah bayar pajak sejak dia berdiri baru sekali bayar pajak,” ungkapnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Bappenda: Penarikan Pajak untuk Warung Bakso Sesuai Perda Lombok Tengah
Next post Gerindra NTB Tak Ambil Pusing Kepindahan Koalisi Cak Imin