Header AD Image

Pengamat Politik: Sosok TGB Adalah Antitesa Kandidat dari Luar Pulau Jawa

Bagikan Artikel
Read Time:2 Minute, 12 Second

Mataram – TGB Institute adakan diskusi secara online yang bertajuk “Halaqah Ramadan” dengan tema “Membaca Dinamika Politik menuju 2024 : Masih relevankah kombinasi pasangan Jawa dan Non Jawa?,” diskusi tersebut berlangsung pada (11/4/23) selasa malam.

Diskusi berlangsung cukup meriah, para peserta diskusi terlihat antusias mengikuti pembahasan hingga akhir acara. Dalam kesempatan itu, pembicara diisi oleh Dosen Komunikasi Politik Universitas Paramadina sekaligus pendiri lembaga survei Kedaikopi, Hendri Satrio dan akademisi Universitas Negeri Mataram (Unram), Dr. Saipul Hamdi selaku moderator.

Hendri menilai kandidat yang berasal dari luar pulau Jawa masih berpeluang untuk tampil dalam kontestasi Pilpres 2024 mendatang. Bukan tanpa alasan, Ia melihat adanya kooptasi kandidat yang berasal dari Jawa akhirnya menimbulkan resisten figur-figur yang berasal dari luar pulau Jawa.

Akibatnya akan terjadi secara cepat atau lambat adanya penguatan secara simultan kandidat yang berasal dari luar Jawa untuk tampil pada kontestasi Pilpres nantinya.

“Terkooptasi dengan nama-nama yang sudah ada,” ujar Hendri.

Lanjut Hendri, kandidat yang berasal dari luar Jawa patut diperhitungkan pada pilpres mendatang. Sebab figur non Jawa memiliki kemampuan dalam mengkonsolidasikan dukungan sebagai antitesa dari kandidat yang berasal dari pulau Jawa.

Tetapi, Ia menilai tujuan itu tidak akan terwujud jikalau kandidat non Jawa tidak diberikan ruang mobilitas yang cukup untuk menapaki jalan politik di level nasional.

Sehingga yang terjadi hanyalah euforia sesaat dan ditambah dengan tidak adanya keinginan dari para ketua Partai untuk mendorong figur non Jawa tampil dalam kontestasi presiden.

Ia menilai tokoh ideal yang mungkin bisa diberikan ruang untuk melangkah dalam perpolitikan nasional seperti halnya Ketua Harian DPP Perindo TGB Muhammad Zainul Majdi.

Menurut Hendri, TGB memiliki track record yang bagus dan telah terbukti dalam memimpin daerah. Sehingga dirasa pantas untuk didorong maju dalam kepemimpinan nasional.

“Nama TGB sangat sesuai kriteria, hanya saja masih kurang mendapat sorotan publik Indonesia,” katanya.

Dosen komunikasi politik itu juga memberikan penjelasan mengenai harus adanya keberanian yang penuh dari figur non Jawa untuk menyampaikan argumentasi dalam menjawab isu nasional yang sedang hangat dibicarakan saat ini, agar popularitas serta kekuatan intelektual para figur bisa dikenal luas oleh masyarakat.

Hendri berharap agar lembaga TGB Institute ini bisa menjadi pemantik bagi lembaga-lembaga lainnya, untuk mendiskusikan mengenai potensi kandidat yang berasal dari non Jawa untuk maju dalam perhelatan pilpres 2024.

Sehingga kedepan dapat menjadi positioning tersendiri bagi kandidat non Jawa dan akan diperhitungkan dalam kancah perpolitikan nasional.

“Potensi melalui TGB Institute ini bisa memasukan nama luar Jawa sebagai kandidat,” ujarnya.

Terakhir Hendri menyampaikan bahwa peluang itu masih terbuka asalkan ada kekompakan dan kesolidan seluruh elemen dalam menaikan figur kalangan non Jawa terlebih kepada seluruh ketua partai-partai politik yang akan mengusungnya.

“Hingga hari ini, semua peluang masih sangat terbuka, jalurnya masih ada, khususnya calon non Jawa” tandasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kunci Gitar Batu Jongkor – Chord Dasar Lagu Sasak
Next post Cahaya Ramadhan Desa Kateng yang Ke-6 Kembali Digelar, Kini Berlangsung Meriah