Header AD Image

Kontestasi Ala Orang Sasak

Bagikan Artikel
Read Time:4 Minute, 2 Second

Hidup adalah pertandingan, demikian judul lagu Cakra Khan. Pertandingan dalam arti kontestasi. Dalam kontestasi, ada permainan (game) yang dirancang secara sengaja sebagai cara untuk mendapatkan pilihan terbaik. Lalu apa hubungan ‘kontestasi’ dengan orang sasak?

Saya ingin menjelaskan, betapa orang sasak sangat akrab dengan kontestasi. Dalam mencari jodoh, orang sasak menempuh proses kontestasi. Tulisan ini akan menulis tentang “midang,” sebuah bentuk kontestasi yang tersedia didalam memilih jodoh. Daripadanya dipetik pelajaran tentang bagaimana seharusnya kontestasi dijalankan. Midang adalah proses saling menjajaki (PDKT??) antara seorang pria terhadap wanita. Uniknya, dikalangan orang sasak, beberapa orang pemuda, diperbolehkan bersaing merebut hati seorang gadis. Setiap pemuda, akan berusaha mempresentasikan diri dengan tampilan fisik paling menawan, akan berusaha menyusun narasi dan percakapan paling memikat, ditambah, memilih buah tangan yang bisa membangun kesan mendalam untuk sang gadis (sasak : bejambeq atau mereweh). Intinya, sebagai peserta kontestasi, pemuda akan berusaha memikat hati si gadis.

Pertanyaannya: Lho kok bisa seorang gadis diperebutkan oleh lebih dari seorang laki-laki? Ya bisa saja. Karena, secara alamiah, tak bisa dihindari, lebih dari seorang pemuda menaruh hati pada gadis yang sama. Konsekuensinya, akan muncul persaingan. Nah, bagi orang sasak, persaingan yang tak terelakkan ini kemudian diatur. Tradisi sasak membolehkan lebih dari seorang pemuda melakukan midang kepada seorang anak gadis. Proses kontestasi didalam pendekatan memperebutkan seorang gadis inilah disebut midang. Untuk menghindari konflik, maka tradisi sasak menyediakan aturan main yang indah. Dikatakan indah, karena pengaturannya mempertimbangkan aspek norma dan nilai yang dianut, aspek hati dan rasa, bahkan disediakan saluran bagi pesaing yang kalah yang berpeluang sangat menderita dan sentimentil.

Apa saja peraturan midang? (baca: kontestasi) itu? Beberapa saja akan disajikan dalam tulisan ini. Pertama, tradisi midang hanya boleh dilakukan di rumah si gadis. Kedua, dirumah itu, tidak boleh hanya terdiri dari mereka berdua, melainkan ada anggota rumah yang lain seperti ayah, ibu, saudara, kerabat atau bahkan pembantu rumah tangga (jika ada). Intinya, di rumah itu, terdapat orang lain selain si gadis. Mungkin orang sasak khawatir, jika pemuda dan gadis dibiarkan berduaan, maka orang ketiganya adalah (maaf) setan. Ketiga, percakapan tidak boleh dilakukan diruang tertutup, umumnya di serambi terbuka yang mudah dilihat. Keempat, tentang jarak diantara kedua orang yang bercakap cakap. “Jarak seksual” dilarang, suatu jarak yang memungkinkan terjadinya persentuhan fisik dengan mudah.

Kelima, dalam midang, dikenal sistem “antri”, pemuda yang datang duluan, berhak diterima si gadis lebih dahulu. Bagi pemuda yang datang belakangan, dilarang keras untuk langsung ikut nimbrung, sebagai orang ketiga. Ia harus sabar dulu menanti, biasanya di “berugaq,” semacam saung /gazebo yang berfungsi sebagai tempat transit tamu. Bila langsung nimbrung, bisa berakibat duel antar pemuda. Sebaliknya, jika sudah tahu ada pemuda lain yang datang dengan tujuan sama, pemuda yang sudah lebih dahulu tiba, tidak boleh ia berusaha untuk berlama lama. Ini juga bisa mengundang duel. Tidak ada batasan ketat tentang waktu, tapi setiap orang bisa mengira ngira, waktu yang baik untuk memberi kesempatan pada pemuda pesaingnya. Indahnya, pemuda yang datang terlebih dahulu, pada waktu hendak pulang, ia akan ber basa basi minta pamit duluan pada pemuda berikutnya yang adalah pesaingnya.

Keenam, yang bertindak sebagai “bawaslu” adalah, orang tua si gadis, biasanya ibunya. Jika ada indikasi-indikasi pelanggaran, seperti percakapan sudah mengarah pada topik-topik yang tidak senonoh, ada gelagat tidak baik dalam tingkah laku, sudah terlalu lama dalam arti waktu telah larut malam, maka si ibu (baca: bawaslu) akan keluar dan sengaja memperlihatkan kehadirannya, mengambil posisi duduk pada tempat yang jelas terlihat dan bisa mendengar pembicaraan. Sebenarmya, itu isyarat kepada pemuda untuk segera pergi.

Bagaimana jika “game” tidak berlangsung mulus, atau terjadi pelanggaran? Bentuk-bentuk pelanggaran dalam midang antara lain : terdengar berbicara tidak senonoh, kedapatan berlaku tidak santun, apalagi melanggar susila, misalnya: bersentuhan. Jadi, proses midang ini, sangat memuliakan perempuan, karena laki-laki akan berusaha tampil maksimal untuk bisa dipilih, sangat melindungi perempuan, karena percakapan terjadi dirumah sendiri, terbuka dan terawasi. Bandingkan dengan cara pacaran zaman sekarang, berduaan ditempat sepi, tidak dalam pengawasan orang tua.

Tradisi midang dijamin lebih mulia dan syar’i. Nah, akhir dari midang adalah pernikahan. Dan yang pasti, hanya ada seorang pemuda yang terpilih, selebihnya akan terpelanting sebagai kontestan yang kalah. Bagaimana mengapresiasi pesaing yang kalah? Tradisi sasak antara lain menyediakan: Pertama, pemuda yang kalah bersaing, boleh “betandaq” semalam suntuk, bermalam malam, diluar batas desa dimana gadisnya menikah. Ini cara pemuda “broken heart” untuk membakar dukalara ditinggal kawin pujaan hatinya. Betandak adalah, laku seseorang yang melantunkan prosa, biasanya berlirik sentimentil. Mirip lagu blues. Warga desa pun maklum.

Saluran lain adalah, pada malam pesta pernikahan (sasak: begawe), para pesaing yang kalah kontestasi, diperbolehkan melampiaskan galaunya dengan memecahkan tanpa melukai: Satu tempayan berisi penganan yang sedang dibuat para gadis. Para tamu di pesta itu, juga memaklumi. Oh, ada pemuda patah hati ditinggal kawin pacarnya (kemateq) yang sedang sangat emosional. Para tamu memaklumi, tapi jangan lebih dari satu tempayan.

Nah, bukankah midang itu suatu teladan kontestasi yang sangat bermakna? Belajar kontestasi dari Lombok.

Lalu Bayu Windia (Penulis), seorang tokoh kebudayaan sasak.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Polres Lombok Barat Kembalikan Mobil dan Motor Hasil Pencurian
Next post Diduda Sering Pesta Narkoba, Rumah Pemuda di Pujut Digerebek Kepolisian