Header AD Image

Feminisme dan Akar Tunggal Prostitusi

Bagikan Artikel
Read Time:3 Minute, 45 Second

“Sampai mana perjuangan feminisme akan terus di teriak-teriakkan?”

Jika pertanyaan ini adalah gubahan yang perlu diperhatikan, maka selanjutnya kita harus memberikan kerangka penalaran agar dapat dijelaskan secara cemerlang. Melihat tumbuh suburnya ketidakadilan adalah keharusan untuk membasmi segala bentuk ketidakadilan tersebut. Jika ranahnya politik, sosial dan gender seperti isu-isu dari bibir para feminisme yang belum terselesaikan, semisal perempuan itu lemah, cengeng dan manja yang hanya bekerja pada ruang kasur, sumur dan dapur. Melihat tindakan-tindakan yang harus superior jika dibandingkan dengan pria yang memiliki kekuatan, kelogisan dan juga bertugas mencari nafkah untuk perempuan.

Terkait hal tersebut, penulis teringat perkataan dari seorang ulama masyhur Nusantara. Mbah Maimon Zubair, “setinggi apapun pendidikan perempuan, karir terbaiknya adalah berdiam di rumah, bayaran termahal adalah ridho suami, prestasi terbesarnya adalah Ketika mampu mencetak anak sholeh dan sholehah.”. Lalu apakah ungkapan tersebut menjadi bentuk dari memarjinalkan Wanita? Bentuk dari ketidak adilan yang selalu di timpa Wanita akan keinginan, kebebasan, juga keberpihakan.

Membahas emansipasi rupanya lebih hangat untuk suasana perjuangan feminisme. Yang seharusnya para wanita adalah Wanita itu sendiri, dengan kebebasan dari ketidakadilan sosial. Bukan yang sering saya dengar dari beberapa teman wanita perjuangan ideologi feminis akan keinginan mereka untuk superior layaknya para pria. Atau malah lebih buruknya ingin menjadi pria. Yang pada akhir-akhir menjadi tragedi tambahan dari bias-gender.

Lebih lanjut penulis ingin menyelipkan ungkapan wanita superior mbak Dian Sastrowardoyo, sosok wanita cantik serta manis senyumnya. “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi Ibu.”

Lalu apa yang perlu lebih di perjuangkan dari justice pergerakan feminisme? Dari akar-akar serabut, Marginalisasi (pemiskinan ekonomi), Subordinasi (anggapan tidak penting), Streotipe (pelabelan negatif), Double Barden (beban ganda), maupun kekerasan terhadap perempuan.

Ternyata problema ketidakadilan akar serabut tersebut masih belum mampu tertutup rapat, akan lubang-lubang yang selalu membukanya. Lubang-lubang merambah, lubang-lubang masa demi masa, yang belum terbasmi. Yakni akar tunggal Prostitusi.

Meraup banyak asumsi-asumsi dalam buku History of Prostitution karya William Wallace Sanger, seorang dokter yang telah mengabdikan dirinya pada kasus pelacuran. Ia pernah bertugas sebagai dokter residen pertama di Blackwell Island. Pertemuannya dengan dunia prostitusi adalah ketika ia ditugaskan oleh anggota dewan kota New York untuk meneliti motif para pelacur.

Segala pengalamannya tentang penelitian prostitusi-prostitusi terbesar di dunia, dari abad ke-18 SM oleh bangsa Yahudi hingga saat ini yang masih menjadi spektrum mawar dan kupu-kupu berterbangan.
Konon usia prostitusi itu hampir sama tuanya dengan peradaban manusia.

Prostitusi senantiasa muncul dalam setiap periode sejarah. Namun demikian, prostitusi itu tidak sebatas bisnis dan profesi. Ada Hasrat dan nafsu di dalamnya, ada keinginan dan kepuasan di sebaliknya, ada kemiskinan dan tangisan dalam kenistaannya, ada kerendahan dan kebrutalan dalam kebejatannya. Pada suatu masa, prostitusi sebagai profesi bahkan pernah mendapat kehormatannya.

Syahwat lelaki yang sulit dibendung pun terpuaskan oleh para perempuan pelacur di istana-istana megah dan mewah. Prostitusi mengitari para raja, orang-orang terhormat, bahkan prajurit pemabuk yang kehilangan akal. Sejarah telah merekam jejak-jejak pelacuran di dunia dari masa ke masa. Ada beragam motif yang membingkainya sehingga perbuatan rendah tersebut mendapat penggemarnya. Dengan demikian, keberadaan prostitusi itu telah menjarah dan melagenda.

Terkait prostitusi, hal tersebut merupakan suatu bencana ketimpangan gender. Bagaimana tidak? identifikasi pelacur pada umumnya hanya tertuju pada wanita, meski rupanya di kota-kota besar teradapat juga pelacur pria yang disebut dengan ‘gigolo’. Namun hanya wanita-wanita kaya yang mampu untuk memesan para pelacur pria, sebaliknya para pria dari golongan kelas bawah, menengah, hinggat atas, mampu untuk membeli sebidang daging segar wanita dengan harga yang telah di sediakan secara unlimited menurut kelas-kelasnya.

“Prostitusi bukan pekerjaan. Bagian dalam tubuh perempuan bukanlah tempat kerja”
(Julie Bindel, aktivis politik dan pendiri ‘Justice for Women’)

Kembali pada gerakan feminisme, yang dari dulu hingga sekarang masih belum terselesaikan. Memang kompleks membahas kajian feminisme, namun lebih kompleks lagi melihat perjuang-perjuangan mereka yang belum juga mendapat bendera kemerdekaan dari dunia yang terlanjur patriarkis.

Daripada teriakan lantang perempuan akan pembebasan gender, unjuk rasa gagah akan peran politik, atau perilaku mereka yang ingin menjadi superman agar dapat terbang mengkepakkan sayap mengapai bendera kemerdekaannya. Sayangnya sebelum berangkat berjuang, mereka tidak sadar bahkan lupa mencabut akar tunggal permasalahan yang telah subur menjadi jamur kehidupan di bumi, sejak dulu hingga sekarang, bahkan nanti tanpa berkesudahan.

“kita mengatakan bahwa perbudakan telah menghilang dari peradaban bumi, namun ini tidak benar. Perbudakan masih ada, dan sekarang hanya berlaku untuk perempuan. Namanya adalah prostitusi.” -Victor Hugo-

 

ZM Syafiq (Penulis) ia merupakan Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo dan Mahasiswa filsafat di salah satu Universitas di Yogyakarta.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Selama Oprasi Pekat, Polres Lombok Barat Amankan 46 Pelaku Perjudian, Prostitusi Hingga Pengedar Miras Ilegal
Next post Polres Lombok Barat Sita Ribuan Botol Miras di Awal Ramadhan