Header AD Image

Generasi Muda Tidak Apatis Namun Bernasib Tragis

Bagikan Artikel
Read Time:3 Minute, 49 Second

Jika kita perhatikan pola pendekatan kontestan presiden maupun partai politik hari ini ataupun mereka yang akan mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dalam pemilu 2024 mendatang. Para calon-calon tampaknya sangat ingin menarik perhatian generasi muda (usia 17-39 tahun) melalui branding diri khususnya melalui media sosial di ruang publik, baik secara tersirat maupun terang-terangan. Hal ini masuk akal sebab diprediksi pada pemilu 2024 nanti pemilih muda adalah calon pemilih terbesar yang diperkirakan akan mencapai 60 persen dari total pemilih.

Fenomena kampanye ala generasi muda tersebut ditunjukkan dengan melihat berita dan materi kampanye calon maupun politisi petahana. Dari gaya berpakaian, gaya hidup hingga slogan yang secara terbuka mengatakan bahwa mereka akan memperjuangkan aspirasi generasi muda. Dari Ganjar yang belajar main tok-tok atau Erik Tohir yang eksis di media sosial dan membuat konten joget ala tiktok hingga Prabowo Subianto dan Anies Baswedan yang tak pernah ketinggalan dalam mengikuti tren di anak muda. Kini bukan lagi istilah rakyat yang populer, namun anak muda menjadi kosakata yang segar dan lebih menjual.

Pemilih muda sendiri diklasifikasikan dalam banyak macam. Mulai dari generasi milenial, generasi Z hingga Y dengan bermacam-macam predikat yang melekat pada diri mereka, seperti generasi yang akrab dengan teknologi terutama akses internet, generasi yang sangat mementingkan diri sendiri, bahkan dianggap cenderung pragmatis dan apatis dalam urusan politik.

Generisi muda seringkali disebut sebagai generasi paling beruntung karena banyaknya akses pengetahuan yang dimiliki, namun ironisnya generasi ini justru mempunyai banyak problemnya sendiri. Generasi ini bahkan sering diprediksi dalam berbagai penelitian sebagai generasi yang tidak akan mampu membeli rumah di masa depan, suka berpindah-pindah pekerjaan dan dinilai hanya fokus pada urusannya pribadi masing-masing.

Namun jika dilihat lebih jauh tentang generasi muda maka generasi ini bukanlah kelompok sosial yang tiba-tiba jatuh dari langit. Generasi muda hari ini adalah generasi yang lahir di tengah masyarakat dan kondisi ekonomi-sosial-politik yang berkembang dari generasi sebelumnya. Artinya generasi muda ini bukanlah generasi yang lahir di ruang hampa, generasi yang terlepas dari struktur masyarakatnya yang ada. Dengan menempatkan generasi muda sebagai bagian dari struktur masyarakat, kita tidak bisa semudah itu melihat problem generasi muda sebagai masalah individual belaka sebagaimana selama ini sering diwacanakan oleh politisi, media maupun lembaga penelitian. Kita juga harus bisa menempatkan bahwa problem generasi muda sebagai problem masyarakat kita saat ini yang hidup dalam sistem kapitalisme neoliberal.

Kita ambil contoh sederhana tentang masalah ketidakmampuan generasi muda dalam membeli hunian, pertama-tama kondisi ini harus kita tempatkan pada kondisi ekonomi politik yang melingkupinya. Dimulai dari pertanyaan, apakah generasi muda dapat mengakses pendidikan tinggi sebagaimana generasi sebelumnya? Jika iya, apakah biaya pendidikan tersebut masih masuk akal melihat kenaikan biaya dari tahun ketahun? Setelah mereka lulus, apakah ada lapangan pekerjaan yang siap menampung mereka? Jika memperoleh pekerjaan, bagaimana kondisi upah serta tuntutan pekerjaan mereka?

Masalah lain yang terkait dengan ketidakmampuan generasi muda dalam membeli hunia tersebut bisa juga kita luaskan lagi dengan pertanyaan, apakah upah minimum yang diterima mampu mengimbangi biaya hidup yang semakin hari semakin membengkak? Bagaimana dengan biaya pelayanan kesehatan saat ini? Apakah mengurangi beban hidup yang dimiliki generasi muda? Tentu banyak hal yang bisa jadi pertimbangan dalam menganalisis masalah generasi muda hari ini (sekaligus dicari solusinya) daripada analisis murahan yang sekadar menilai bahwa generasi muda hari ini lebih memilih liburan dibanding membeli rumah.

Contoh lain tentang generasi muda yang suka berpindah karir harus kita lihat dari regulasi ketenaga kerjaan yang berjalan dan data terkait lainnya. Apakah sistem tenaga kerja kontrak (yang paling banyak notabene adalah generasi muda) semakin banyak atau sedikit? Bagaimana tentang jaminan karir mereka? Apakah kerja lembur mereka dibayar saat mereka bisa menentukan sendiri kapan waktu bekerja mereka sebagaimana menjadi tren korporasi saat ini? Bagaiaman dengan konsekuensi atas diterapkannya UU Omnibulaw beberapa waktu lalu terhadap generasi muda? Tentu akan banyak yang bisa digali dari data tersebut, alih-alih menyebut dengan enteng bahwa generasi muda adalah generasi yang mudah bosan dengan pekerjaannya.

Kembali ke permasalahan diawal, bisakah kita berharap pada politisi di pemilu besok yang mengatakan bahwa mereka adalah perwakilan generasi muda hari ini? Saya pribadi cukup pesimis karena kampanye dan tawaran politik yang ditampilkan saat ini masih sekadar pencitraan tanpa menyentuh substansi permasalahan generasi muda itu sendiri.

Meski demikian, tetap harus dilakukan kritik dan penelitian lebih dalam terkait wacana generasi muda dan dunia politik, sebab bersikap masa bodoh terhadap politik adalah politik yang paling bodoh. Disisi lain proses penyadaran tentu butug waktu panjang, berliku, sekaligus penuh tantangan. Tak ada pilihan lain, jika ingin ada perubahan kedepan menjadi lebih baik maka jawaban itu ada di tangan generasi muda.

Shulhi Rinjani (Penulis) menetap di Lombok Barat, menggeluti isu-isu ekonomi politik serta kedaulatan lingkungan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Waspada! Berikut 5 Penyakit Paling Mematikan di Indonesia
Motif Pembunuhan Keji di Lombok Tengah Ternyata Akibat Dendam 6 Tahun Lalu Next post Motif Pembunuhan Keji di Lombok Tengah Ternyata Akibat Dendam 6 Tahun Lalu