Header AD Image
Ganjar Si Jomblo Berkelas: meski Jomblo, Dicintai Publik dan Lembaga Survei

Ganjar Si Jomblo Berkelas: Meski Jomblo, Dicintai Publik dan Lembaga Survei

Bagikan Artikel
Read Time:5 Minute, 29 Second

Selain fluktuasi harga saham, bitcoin dan perasaan wanita yang selalu turun dan naik, mungkin saya bisa menambahkan satu lagi, bahwa dinamika politik pilpres di Indonesia merupakan salah satu yang paling fluktuatif juga, dinamikanya selalu tidak bisa tertebak dan menghadirkan akrobatik-akrobatik yang mengejutkan.

Kita hanya bisa menebak-nebak dari event-event (runtutan kejadian) yang dapat dikonstruksi menjadi suatu klise-klise ala perpolitikan duniawi di endonesiah. Haha. Walaupun kita, telah mendapati sinyal-sinyal jelas mengenai pengelompokan politik berdasarkan manuver-manuver parpol untuk menentukan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan diusung, masih menjadi pertanyaan mengenai posisi Ganjar Pranowo dalam konteks ini.

Lah-lah, kok tiba-tiba Ganjar Pranowo? yap, karena penulis menghendaki diri untuk menulis Beliau, disisi lain ada kemiripan tersendiri dengan penulis; jomblo misalnya. Tidak serupa, juga sih. Letak perbedaanya dapat dilihat bahwa, Penulis adalah jomblo akut yang nelangsa dikoyak-koyak kisah masa lalu. Namun, Pakde Ganjar ini adalah sosok Jomblo nya berkelas, meski Jomblo tapi disayang banyak orang dan lembaga survei. Amboiiii, mungkin karena beliau Fans MU juga, publik banyak bersimpati kepadanya wkwkwk.

Baiklah, mari ngobrol mengenai Pakde GP (Supaya lebih singkat).

Pakde GP ini, selaku Gubernur Jawa Tengah aktif, makin hari makin diperhitungkan di dunia politik. Meskipun begitu, partai politik “tampaknya enggan” untuk merekrutnya sebagai calon mereka. Meski Ganjar populer di mata rakyat, tetapi kenapa partai menghindarinya?

Ini seperti kasus kekinian anak-anak Gen-Z, meskipun berstatus jomblo bisa populer di media sosial, tetapi tidak menjamin dapat memiliki pasangan karena berbagai faktor lainnya. Begitu juga dengan Ganjar, meskipun begitu populer di mata rakyat, dan lembaga survei, tetapi tanpa dukungan partai politik, peluangnya untuk menjadi presiden tetap terbatas.

Ada satu kata pepatah lama yang mengatakan “popularitas belum tentu sejalan dengan dukungan partai politik”. Terlebih lagi, di dunia politik kita, setiap tindakan memiliki konsekuensi politiknya sendiri. Namun, penulis tidak menerima kata pepatah ini, meskipun yang mengutipnya adalah penulis sendiri. Karena bukan politik namanya, manakala tidak menghadirkan surprise-surprise menarik.

Kalimat partai politik “tampaknya enggan” untuk merekrutnya sebagai calon mereka, fokuskan pada “tampaknya enggan”, Bukan berarti tidak ada peluang ya, posisinya saja yang terlihat seperti jomblo yang sana sini tidak diterima, namun peluang itu nyata adanya; bisa jadi juga semacam emas yang disimpan sebagai kejutan untuk dijual ketika harganya naik, untunglah kita pada akhirnya. Sebut saja, wara-wiri Mbak-Ku Puan Maharani yang dicintai seluruh perempuan di Indonesia, hanya sebagai Strategi Cek Ombak yang dilakukan PDIP

Sebenarnya, hal semacam ini bukan lah suatu jualan baru dalam dunia politik kita. Banyak pemimpin yang sulit menemukan partai yang mendukung, tapi malah lebih disayangi oleh masyarakat. Apakah ini juga merupakan kejadian ironi dalam dunia politik kita? Dalam Konteks, Pakde GP ini saya rasa, banyak manuver yang masih bisa terjadi.

Analisis pribadi saya lebih cenderung ke preferensi penjelasan dibawah.

Mungkin saja, meskipun Ganjar Pranowo sulit menemukan partai politik yang mendukung, dukungan publik terhadapnya tetap tidak bisa diabaikan. Di masa-masa mendatang, kita akan melihat apakah popularitas dan kinerja Ganjar Pranowo akan membawa ia ke jalan yang lebih cerah atau tidak. Dalam artikel yang diterbitkan oleh Mojok misalnya, diketahui bahwa partai politik seperti PDIP, Golkar, dan Demokrat enggan memberi sinyal yang jelas untuk sekedar menyebut nama Ganjar Pranowo sebagai calon mereka.

Terkhusus di partai PDIP, Meskipun Ganjar Pranowo telah meraih popularitas yang tinggi melalui hasil survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga, hal ini tidak cukup untuk memenuhi syarat bagi PDIP untuk memberikan respon positif secara terbuka.

Saat ini, Ganjar Pranowo mengalami dilema karena partai-partai lain enggan menyebut namanya. Hal ini tidak disebabkan oleh kurangnya minat politik, melainkan sesederhana mungkin parpol lain males berseteru dengan Partai Merah dengan Logo Banteng Hitam perkasa yang ikonik itu. Namun, di sisi lain, partai PDIP di mana Ganjar menjadi kader juga belum menyebutkan namanya, mungkin internal partai ini, (setidaknya sampai sekarang) lebih menghendaki Kepak Sayap Kebhinekaan Bersama Mbak Ku Puan Maharani yang dicintai seluruh perempuan di Indonesia.

Meskipun survei menunjukkan popularitas Ganjar Pranowo cukup tinggi, hal tersebut belum cukup bagi PDIP untuk memberikan respons positif secara terbuka. Berbeda dengan partai seperti Gerindra, Golkar, PKB, Nasdem, dan Demokrat yang mudah memilih calon dan seperti terang sinar matahari pagi menyuarakan dengan dengan jelas posisinya keke publik. Mengusung Anies deh Contohnya, hehe

Meski demikian, PDIP tidak sepenuhnya menutup pintu untuk Ganjar Pranowo, meskipun nama Ganjar kurang diterima secara positif di internal partai akhir-akhir ini. Menurut saya, PDIP masih menunggu sinyal yang lebih jelas. Setiap partai pasti ingin menang dalam suasana demokrasi multi-partai seperti Indonesia, dan untuk menang, perlu melakukan konsesi dan negosiasi.

Dalam hal ini, PDIP mungkin sudah siap secara mental untuk mencalonkan Ganjar Pranowo di waktu mendatang, jika hasil survei menunjukkan popularitasnya sangat tinggi dan menjanjikan kemenangan bagi partai tersebut. Hal ini bisa menjadi pertanda bagi PDIP bahwa mencalonkan Ganjar lebih menjanjikan kemenangan daripada mencalonkan kandidat lain.

Hehe gimana-gimana?

Seperti kata penulis di awal, GP ini semacam investasi emas yang disimpan sebagai kejutan untuk dijual ketika harganya terus melonjak naik dan naik. PDIP menyiapkan ini sebagai kejutan atau justru Mbak Puan Maharani yang dicintai seluruh perempuan di Indonesia yang akan diusung, let’s see entertain semacam apa yang akan dipentaskan oleh dinamika politik di Indonesia.

Sampai saat ini, Ganjar Pranowo masih menjadi salah satu dari tiga bakal calon presiden teratas menurut survei utama. Ini merupakan pencapaian yang sulit dicapai oleh kandidat lain selain Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Survei terbaru dari Lembaga Survei, DTS (Development Technology Strategy) menjelang akhir Juli 2022 menempatkan Ganjar di posisi teratas dengan 27,8%, diikuti oleh Anies Baswedan dengan 24,6%, Prabowo Subianto dengan 13,2%, dan Ridwan Kamil dengan 13%.

Selain itu, setiap hari semakin banyak relawan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang mendeklarasikan dukungannya kepada Ganjar, termasuk dari kalangan muda dan emak-emak. Dukungan ini juga terlihat semakin kuat di media sosial dari relawan online.

Salah satu hal yang perlu dijadikan pertimbangan yang okee lagi mantebb, dan menjadikan pak GP jomblo berkelas bak orang yang menunggu pemberian kekasih terbaik dari tuhan, adalah rambu-rambu sinyal Pakde Jokowi  yang mulai menunjukkan dukungan politiknya secara tidak langsung kepada Ganjar Pranowo dengan sering mengadakan acara di Jawa Tengah yang juga melibatkan Ganjar, cie-cie. Meskipun seringkali secara simbolik, tindakan Jokowi ini menunjukkan niatnya yang serius untuk membantu Ganjar sebagai Jomblo yang segera menemukan kekasih hatinya yang terbaik, disambangi Pakde Jokowi, berarti telah mengantongi suatu modalitas politik yang tidak didapatkan oleh kandidat lainnya.

Namun, “jika ada” satu hal yang pasti, itu adalah Ganjar Pranowo adalah sosok pemimpin yang inspiratif dan patut diteladani. Seperti kata pepatah, “popularitas bisa datang dan pergi, tapi kesan yang ditinggalkan oleh kepemimpinan yang baik akan selalu terkenang oleh masyarakat”.

Arfi Hidayat (Penulis) Bukan pengamat politik, kadang Golput Juga.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post 25 Tahun Reformasi, Desentralisasi Jauh dari Implementasi Termasuk di NTB
Polisi Tetapkan Pelaku Pembunuh Keji di Lombok Tengah Sebagai Tersangka Next post Polisi Tetapkan Pelaku Pembunuh Keji di Lombok Tengah Sebagai Tersangka