Header AD Image
Memahami Tradisi Lisan Sasak: Sesenggak, Sesimbing dan Senepe

Memahami Tradisi Lisan Sasak: Sesenggak, Sesimbing dan Senepe

Bagikan Artikel
Read Time:4 Minute, 18 Second

Khazanah kekayaan nenek moyang Suku Sasak terdahulu memang tidak ada habisnya, diantaranya adalah tradisi lisan sebagai bentuk kekayaan intelektual kearifan leluhur sasak terdahulu yang penuh arti, makna dan filosofis mendalam, sehingga menjadi kebijaksanaan yang dihayati.

Kekayaan intelektual yang diciptakan secara anonim oleh tetua terdahulu ini harus senantiasa digunakan sebagai bahan untuk menasehati ataupun saling mengingatkan dari zaman ke zaman, sampai kepada generasi pewarisnya yang sudah tentu adalah generasi sekarang dan mendatang.

Tentu, kekayaan intelektual berupa tradisi kelisanan sasak ini cukup berkesinambungan dan relevan dengan zaman modern dalam menanamkan nilai dan norma kehidupan. Namun, sayang sekali. Upaya dalam inventarisasi dan kajian secara mendalam tentang tradisi kelisanan ini masih minim dan terakhir kali dijadikan proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Kebudayaan pada Tahun 1986 dengan hanya menuliskan 50 ungkapan tradisional sasak.

Berikut, beberapa tradisi ungkapan lisan masyarakat suku sasak, sesenggak, sesimbing, dan senepe:

Sesenggak

Sesenggak merupakan kalimat kebijaksanaan atau kalimat penuh hikmah dengan menggunakan bentuk perbandingan dan pengandaian. Dalam penerapannya biasanya sesenggak digunakan untuk menasehati sehingga dapat meredam terjadinya konflik serta menjadi motivasi tersendiri.

Contoh:

Adeqte tao jauq aiq (Supaya kita bisa membawa air)

Makna: hendaknya setiap kehadiran individu di suatu tempat senantiasa dengan pembawaan yang tenang, damai, dan menyejukkan

Maraq ompoq benang genteng (Seperti menggulung benang yang rapuh)

Makna: dalam upaya menghadapi problematika yang rumit, sulit, dan pelik hendaknya berhati-hati, jangan sampai putus.

Tulus karang jari apuh (Biarlah karang menjadi kapur)

Makna: Sikap prinsip yang teguh dalam meraih segala yang dicita-citakannya meski harus melalui berbagai macam rintangan

Mbe aning jaum, iye aning benang (kemana arah jarum, ke sanalah benang mengikuti)

Makna : Ungkapan ketaatan/ketaqwaan terhadap ajaran agama, juga bisa diartikan sebagai ungkapan terhadap kesetiaan kepada pemimpin atau panutan dalam bermasyarakat

Maraq nyiur, sayan towaq sayan bawaq tarungn (seperti buah kelapa, semakin tua semakin bawah tempatnya)

Makna: sebuah sikap kebijaksanaan, semakin tua semakin berisi dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan, namun harus beriringan dengan sikapnya yang semakin merendah dan tidak merasa congkak serta memberikan kesempatan kepada yang lebih muda dalam mendapatkan pengalaman serta pengetahuan.

Seseimbing

Sedikit berbeda dengan Sesenggak, Sesimbing merupakan kalimat hikmah yang bersifat sindirian. Ungkapan tradisional ini juga berpola perbandingan dengan kehidupan binatang atau perbandingan terhadap gejala alam dengan konotasi negatif, berikut contohnya.

Maraq Kelampan basong kempaliq (seperti pembawaan anjing yang suka mengendus-endus tidak jelas tujuannya)

Makna: Sindiran kepada orang yang tidak memiliki pendirian atau plin-plan serta bersikap avonturir, suka memanfaatkan situasi dan kondisi serta menjalin pertemanan ketika memiliki kepentingan saja.

Kebango mate isiq lepang (Bangau mati oleh kodok)

Makna: Sindiran kepada seorang pemimpin yang kalah dalam berimprovisasi oleh bawahannya, dalam hal ini kalah berarti kalah cerdik, cerdas, bijaksana dan lain-lain

Maraq pemangan landak (seperti cara makan landak)

Makna: seperti halnya landak, landak mencoba-coba semua jenis makanan, alhasil hanya sekedar dicicipi bukan dinikmatinya. Sindiran bagi orang yang sering mengerjakan semua hal namun tidak ada satupun yang tuntas, bahkan pekerjaan tersebut bukan keahliannya namun tetap saja bersikeras dikerjakan.

Senepe

Senepe merupakan kalimat hikmah yang bersifat visioner atau ramalan masa depan. Ungkapan tradisional yang bersifat visioner ini lahir dari kepekaan dan kearifan masyarakat terdahulu membaca lingkungan alam dan sosial di sekitarnya, berikut contohnya.

Eraq lamun te gelompongan teloq leman selong ndeqne gin belaq (Kelak kalau kita gelindingkan telur dari Selong, tidak akan pecah)

Makna: ungkapan tersebut menggambarkan ramalan kondisi jalan yang saat ini sudah tertata rapi, karena sebelumnya tentu tidak semulus keadaan jalan sekarang.

Eraq dengan sugih bait upaq kun dengan jeleng (Kelak orang kaya akan mengambil upah dari orang miskin)

Makna: ungkapan tersebut menggambarkan keadaan sosial bahwa semua pekerjaan jasa buruh masyarakat miskin sudah diganti dengan alat yang lebih bersifat praktis yang tentunya merupakan produk buatan orang yang kaya, seperti pekerjaan jasa cuci baju diganti laundry, pekerjaan mesin penggiling gabah yang menggeser para buruh penumbuk padi dan lain-lain.

Eraq batur bebale dalem api (Kelak orang-orang berumah dalam api)

Makna: arti ungkapan tersebut adalah kelak setiap rumah bahan bangunannya dibuat dari hasil pembakaran seperti bata, genteng, baja ringan dan lain-lain.

Dunie Sayan kutiq (Dunia semakin sempit)

Makna: ungkapan tersebut menggambarkan jumlah populasi yang semakin padat serta kemudahan transportasi di jaman modern ini yang bisa membawa kita kemana saja.

Sesenggak, Seseimbing, dan Senepe menggambarkan produk intelektual masyarakat suku sasak dalam memperhatikan secara detail kepekaan dan kearifan terhadap keadaan lingkungannya sehingga mengambil pelajaran bagi kehidupan manusia sekarang dan masa mendatang.

Selain itu, kepekaan dan keakraban masyarakat sasak dengan alam telah merangsang munculnya kreativitas khususnya dalam bidang sastra yang terekspresikan melalui tradisi ungkapan lisan dan dongeng serta tradisi yang kita kenal dengan Bekayaq.

Kekayaan intelektual masyarakat sasak berupa ungkapan lisan tentu akan segera punah seiring berjalannya zaman dengan kondisi pewaris aktif (orang-orang arif yang menciptakan) dan pewaris aktif (orang-orang arif yang masih menggunakan dan senantiasa melestarikan) yang lambat laun sudah tidak ada inisiatifnya.

Memperhatikan hal tersebut,  pemerintah hendaknya melakukan upaya untuk inventarisasi kebudayaan dengan terstruktur dan sistematis sehingga bisa dinikmati sebagai pelajaran hidup masyarakat sasak di masa mendatang serta generasi bajang masyarakat sasak hendaknya melestarikan dan memaknai ungkapan budaya tradisional tersebut dalam menjalani kehidupan sebagaimana masyarakat sasak yang luhur.

Arfi Hidayat (Penulis) asal Lombok Timur. Orang biasa-biasa saja yang tidak ingin menjadi jenius – saya memiliki cukup banyak masalah hanya dengan mencoba menjadi seorang pria.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Memahami Tradisi Lisan Sasak: Sesenggak, Sesimbing dan Senepe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Video Bullying Siswi di Lombok Tengah Viral di Medsos Previous post Sempat Viral, Para Siswa Pelaku Pembulian di SMKN 3 Pujut Akhirnya Meminta Maaf
Next post Puisi – Perutnya yang Rumah