Header AD Image

Keuntangan Budidaya Lobster di NTB Mencapai 200 Miliyar Pertahun

Bagikan Artikel
Read Time:1 Minute, 36 Second

Mataram – Disamping sektor tambang dan pariwisata, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) juga memiliki potensi kelautan dan perikanan yang melimpah. Salah satunya adalah potensi budidaya lobster yang dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Diketahui di Kecamatan Keruak dan Kecamatan Jerowaru yang berlokasi di Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu sentral pengembangan budidaya lobster di NTB.

Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB menyebutkan, jumlah keseluruhan keramba jaring apung (KJA) di dua kecamatan itu, tersebar di masing-masing teluk diantaranya Teluk Telong Elong dengan jumlah 747 orang pembudidaya lobster yang memanfaatkan 4.382 lubang keramba.

Teluk Ekas dengan jumlah 510 orang pembudidaya dengan 2.492 lubang keramba dan Teluk Serewe tardapat 40 pembudidaya dengan jumlah 62 lubang keramba.

Dari jumlah itu jika ditambah dengan pembudidaya lobster dikawsan lain seperti Sumbawa dan Bima, maka potensi bisnis lobster di NTB diperkirakan dapatmencapai 7,1 juta ekor dengan potensi keuntungan mencapai Rp100 hingga Rp200 miliar/tahun.

Terdapat dua jenis lobster yang dibudidayakan di NTB yaitu jenis lobster pasir dan mutiara. Pada tahap pendeder satu atau tahapan pembenihan, lobster bisa dijual dengan ukuran 50-100 gram seharga Rp250 ribu.

Sedangkan tahap pendeder dua atau tahapan siap dikonsumsi, lobster dijual dengan ukuran 200 gram seharga Rp400 ribu.

Itu harga untuk lobster jenis pasir, untuk lobster jenis mutiara bisa lebih fantastis. Jika sudah di tingkat konsumsi harganya dapat mencapai Rp1 juta/kg. Stok minimal diperkirakan 100 ribu kg, keuntungannya dapat menyentuh angka Rp100 miliar.

Meski demikian, menjadi nelayan memang mampu mengantongi Rp700-800 ribu dalam sehari. Dengan harga benur pasir dijual Rp10 ribu/ekor, sedangkan benur mutiara Rp20-25 ribu/ekor. Namun jumlah tersebut belum dikurangi alokasi untuk biaya operasional, mengganti sejumlah peralatan, dibagi dengan nelayan lain, hingga menanggung resiko saat mendapatkan hasil sedikit bahkan tidak samasekali.

Berbanding terbalik dengan kondisi para pembudidaya. Setiap panen dalam kurun 7-8 bulan, mereka mampu mengantongi hingga Rp100 juta. Sembari menunggu panen, para pembudidaya biasanya menjaring jenis-jenis ikan lainnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Cegah Stunting, Pemda Lombok Barat Ajak Masyarakat Gemar Makan Ikan dan Sayur
Next post Daftar Sekolah Terbaik di Provinsi NTB Tahun 2022