Header AD Image

Riset: Jam 9 Pagi Adalah Waktu Ideal Masuk Sekolah

Bagikan Artikel
Read Time:3 Minute, 30 Second

Beberapa waktu yang lalu sempat ramai pembicaraan tentang kebijakan Gubernur NTT Viktor Laiskodat, menurutnya di tengah ketertinggalan sektor pendidikan provinsi tersebut, langkah sekolah masiuk pagi adalah upaya mendongkrak etos kerja pelajar untuk mempersiapkan mereka masuk perguruan tinggi nasional hingga internasional. Menurut Dinas Pendidikan NTT, kebijakan ini sudah langsung diuji coba di sepuluh sekolah, meski kemudian direvisi menjadi jam 5.30 pagi, di antaranya di SMAN 1 dan SMAN 6 Kupang.

Berkaca dari riset yang ada, benarkah pandangan dan kebijakan yang dilaksanakan oleh Gubernur NTT bahwa masuk sekolah pada pukul 5 pagi mampu meningkatkan etos siswa agar lebih berprestasi dan berkualitas?

Beberapa penelitian telah dipublikasikan oleh banyak ahli, diantaranya pemenang Nobel Kedokteran tahun 2017 yakni Jeffrey C. Hall, Michael Rosbash, dan Michael W. Young. Riset-riset mereka membuktikan bahwa adanya mekanisme biokimia yang mengontrol ritme fisiologis makhluk hidup, kapan mengantuk hingga kapan tubuh terjaga penuh, ternyata sesuai stimulus lingkungan dan cahaya. Matthew Walker, profesor neurosains di University of California, Berkeley Amerika Serikar (AS) juga mengangkat tentang peran ritme sirkadian ini dalam bukunya “Why We Sleep” yang membahas alasan ilmiah mengapa tidur itu penting.

Dalam konteks remaja usia SMA, secara biologis mereka tengah memasuki usia pubertas yang dinamis. Kelompok ini memiliki tantangan besar karena harus berjuang keras untuk bangun pada pagi hari. Riset menunjukkan bahwa ketika anak muda mulai pubertas, jam biologis mereka bergeser, mereka biasanya cenderung tidur lebih larut akibat pergeseran ritme biologis.

Perubahan ritme biologis dan waktu tidur tak teratur ini, ditambah hal-hal yang umum terjadi pada periode remaja, termasuk penggunaan gawai, tuntutan mengerjakan PR, hingga kebutuhan hiburan televisi dan film menyebabkan waktu tidur mereka kian menipis. Sebagaimana yang diungkap studi Universitas Harvard di AS, dinamika ini menyulitkan remaja untuk mendapatkan tidur berkualitas dan rutin setiap malam.

Penelitian dari American Academy of Sleep Medicine dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS misalnya, merekomendasikan remaja berusia 13-18 tahun untuk tidur secara teratur 8-10 jam perhari demi kesehatan yang baik.

Remaja yang kurang tidur lebih mungkin mengalami gangguan metabolisme dan berkorelasi dengan kelebihan berat badan, kesulitan melakukan aktivitas fisik sehari-hari, gejala depresi, keterlibatan dalam perilaku berisiko yang tidak sehat seperti kecanduan alkohol, merokok tembakau, menyalahgunakan obat-obatan terlarang, hingga prestasi buruk di sekolah.

Secara global, para ahli mengatakan bahwa jam mulai sekolah adalah hal utama yang menentukan pola bangun tidur siswa. Itulah mengapa, siswa umumnya tidur lebih lama dengan rerata 1-2 jam pada hari libur atau dalam konteks penganut agama Islam, punya waktu tidur tambahan selepas salat subuh. Implikasinya, jam sekolah wajib mempertimbangkan dinamika remaja usia SMA.

Epidemiolog di CDC, Anne Wheaton beserta timnya melakukan analisis sistematis atas 38 penelitian terkait kebijakan jadwal sekolah dan dampaknya pada remaja. Secara umum, ada kesepakatan dari para peneliti bahwa jam sekolah yanh ideal itu justru mulai lebih telat, misalnya sekitar jam 8.30 atau 9.00 pagi. Hal ini memberikan waktu bagi remaja SMA agar tidur dengan layak agar punya waktu cukup untuk sarapan pagi, serta melakukan persiapan yang baik untuk sekolah.

Hal diatas banyak menjadi alasan banyak negara, dari Australia hingga negara-negara Skandinavia, memulai sekolah SMA pada jam 8.30 ke atas. Meski di Amerika Serikat sedikit lebih awal, kebanyakan sekolah mulai pukul 8.00 pagi. Perhimpunan Dokter Anak Amerika secara tegas menyarankan sekolah mulai minimal pukul 8.30 pagi.

Uji coba lain di Inggris yang terstruktur selama periode empat tahun (2010-2014) menemukan bahwa memindahkan waktu masuk sekolah dari standar waktu jam 9.00 ke jam 10 pagi (pulang jam 14.00) menghasilkan kenaikan sebesar 12% dalam capaian akademik siswa.

Secara umum, riset-riset diatas juga menunjukkan bahwa jam masuk sekolah yang lebih siang berkaitan dengan naiknya tingkat kehadiran di sekolah, lebih sedikitnya keterlambatan, lebih sedikit anak yang tertidur di kelas, nilai lebih baik, dan lebih sedikit kecelakaan kendaraan bermotor. Sementara dampak dari jam mulai sekolah yang terlalu pagi, seperti kebijakan baru dari pemerintah NTT, berisiko secara sistematis bukan hanya untuk murid.

Para guru perkotaan yang memiliki keluarga kecil dengan anak usia dini dan usia sekolah tanpa dukungan sosial yang memadai, tidak kalah sengsaranya. Guru-guru dan orang tua akan kehilangan waktu tidur dan mesti bangun lebih awal beberapa jam untuk mempersiapkan anak-anaknya dan keluarganya, ini juga bisa mengancam kesehatan mereka pada masa tua.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Mahfud MD: Ada Transaksi Mencurigakan Sebesar 300 Triliun di Kemenkeu
Next post Cegah Stunting, Pemda Lombok Barat Ajak Masyarakat Gemar Makan Ikan dan Sayur