Header AD Image

The Godfather : Film Mafia Terbaik Sepanjang Masa

Bagikan Artikel
Read Time:4 Minute, 19 Second

Judul : The Godfather

Tahun : 1972

Penulis : Mario Puzo

Sutradara : Francis Ford Coppola

Casth : Marlon Brando, Al Pacino, James Caan, Robert Duval, Diane Keaton, Robert De Niro, Jhon Cazale, Richard Castellano, Talia Shire

Durasi : 177 Menit

The Godfather mungkin terlupakan jika melihat dunia perfilman yang saat ini didominasi genre horror dan superhero. Namun fans setia film ini tentu tidak bisa melupakan akting Marlon Brando dan para aktor kawakan lainnya seperti Al Pacino yang diumumkan akan kembali membintangi film The Irishman yang tayang tahun 2018 lalu.

Menurut penulis, film ini menjadi salah satu mahakarya yang masih menduduki peringkat film terbaik setelah The Shawshank Redemption (1994) di situs kritik film IMDb. Bahkan sekuel filmnya juga masih setia menduduki peringkat ketiga.

Sinopsis

The Godfather bercerita tentang kisah keluarga mafia terkuat di New York yang dipimpin oleh seorang pria keturunan Italia bernama Vito Corleone yang kerap dipanggil Don Corleone. Di bawah kekuasaannya, grup Corleone menjadi “raja” di balik bayang-bayang kota New York. Hampir semua keluarga mafia lain dan polisi langsung gentar begitu mendengar namanya. Namun dibalik reputasinya yang terkenal kejam, ternyata Don Corleone merupakan sosok yang penyayang bagi keluarganya. Dia sendiri mengatakan bahwa orang yang tak bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya tidak akan menjadi lelaki sesungguhnya.

Selain itu, Don Corleone juga dikenal sebagai pribadi yang suka menolong dan mau melakukan apa saja untuk orang lain dengan satu persyaratan sederhana, yakni persahabatan. Sebagai seorang Sicilian, Don Corleone akan membuka rumahnya bagi siapapun yang membutuhkan pertolongan bahkan ketika sedang merayakan acara istimewa sekalipun. Kehidupannya semakin lengkap saat putri bungsunya yang bernama Connie menikah. Siapa sangka, keluarga Corleone harus kembali menghadapi badai setelah pernikahan tersebut. Film ini akan banyak mengambil alur cerita setelah prosesi pernikahan anak bungsunya digelar.

Alur Film

The Godfather tidak hanya berfokus pada keseharian Don Corleone dalam mengatasi setiap permasalahan yang menghampiri bisnisnya. Tokoh-tokoh lain seperti Santino “Sonny” Corleone dan Michael Corleone juga mendapat sorotan tersendiri saat menghadapi permasalahan masing-masing. Meskipun sorot ceritanya terpecah menjadi beberapa bagian, namun penulis tidak pernah mengalami sindrom “bingung fokus” ketika menonton jalannya film ini. Tidak seperti Pirates of Carribean yang sempat penulis ulas sebelumnya karena alurnya yang langsung membelah seperti amoeba, The Godfather sukses menghubungkan alur cerita utama dengan sub-plot dari awal sampai akhir.

Durasi tiga jam yang normalnya membuat penonton tidur di pertengahan cerita tak mempengaruhi penulis untuk sekedar melewatkan satu atau dua adegan remeh. Karena bisa jadi hint yang disembunyikan justru berada di adegan tersebut, salah satunya adalah jeruk. Buah satu ini dijadikan sebagai pertanda buruk di film ini. Jika kalian menonton sejumlah adegan yang melibatkan jeruk, bisa dipastikan hal buruk akan segera terjadi menimpa salah satu tokoh. Semua kejadian yang terjadi secara acak satu-persatu terhubung melalui penjelasan dan tindak-tanduk para tokohnya. Berkat itulah, sebuah hal istimewa yang disebut plot twist sukses yang mengejutkan. Sedikit bocoran, salah satu tokoh yang kelihatannya tak berhubungan sama sekali justru menjadi akar dari segala kekacauan di dalam keluarga ini.

Penokohan

Tidak seperti film-film kriminal pada zaman sekarang yang lebih memfokuskan pada koreografi bela diri, The Godfather tidak memiliki hal semacam itu. Adegan gebuk-gebukan dengan gaya tarung memukau tak akan pernah kalian temui di sini. The Godfather menawarkan hal lain yang lebih memukau ketimbang sekedar adu jotos. Film ini memberikan sebuah tensi lain yang pasti akan dirasakan penonton, entah melalui adu dialog atau saat “mengeksekusi” musuh-musuhnya.

Di sini para karakter harus diuji kepekaannya. Siapa yang menjadi teman? Siapa yang menjadi musuh? Siapa yang akan menusuk dari belakang? Konflik seperti itulah yang membuat jalan ceritanya susah ditebak namun seru untuk dinikmati. Konflik selain perseteruan antar gembong mafia juga patut disorot. Pertengkaran antar anggota keluarga, pengkhianatan oleh teman yang terpercaya dan saat negosiasi demi “meloloskan” keinginan klien Corleone menjadi adegan yang tak boleh kalian lewatkan sedikitpun. The Godfather menunjukkan begitulah para mafia bekerja, bukan sekedar adu jotos belaka.

Sang sutradara, Francis Ford Coppola seolah memiliki cara jenius namun kontroversial dalam meningkatkan kualitas akting para aktornya. Apa dia menyuruh para aktornya untuk berlatih kontemplasi? Tidak! Dia memilih membuat para aktornya menghadapi situasi tak terduga yang membuat para aktor mengeluarkan ekspresi yang diinginkan olehnya. Kalau tak percaya, tanya saja aktor legendaris John Marley yang pernah jadi korban “keisengan” Francis. Adegan ia berteriak saat mendapati kepala kuda tergeletak bersimbah darah di atas kasurnya itu bukan akting, sumpah! Itu benar-benar reaksi kaget karena mendapati bahwa kepala kuda tersebut bukan sekedar properti biasa. Itu benar-benar kepala kuda beneran.

Lalu ada pemeran bernama Gabrielle Torrei (Enzo) yang sempat kita kira sedang berakting gugup saat mobil mafia menjauh itu memang ternyata sedang gugup beneran karena memang baru pertama kali berakting di depan kamera. Ingat saat adegan Sonny menghajar Carlo yang notabene adik iparnya? Penulis menemukan fakta bahwa adegan itu bukan rekaan semata. Itu benar-benar murni perkelahian karena diketahui James Caan yang memerankan Sonny memang “sengaja” memukul Russo yang berlakon sebagai Carlo sampai sampai rusuk dan sikunya cedera. Mengesampingkan para aktor yang malah “kebablasan” berekspresi, akting Marlon dan para aktor pendukung lainnya perlu mendapat acungan jempol. Keputusan Marlon menggunakan kapas sebagai improvisasi benar-benar langkah yang bagus untuk menonjolkan kesan mafiosso. Caranya menangis saat beradegan di pertemuan para ketua mafia juga terlihat alami. Bagaimana Talia meratap ketika tahu suaminya mati juga patut dipuji.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Menko PMK: Nikah Dini dan Kemiskinan Penyebab Tingginya Stunting di NTB
Para Pembalap WSBK Batal Naik Jaran Kamput saat Karnaval Festival Budaya di Mandalika Next post Para Pembalap WSBK Batal Naik Jaran Kamput saat Karnaval Festival Budaya di Mandalika