Header AD Image

Penelitian: Minum Kopi Dapat Kurangi Resiko Kematian

Bagikan Artikel
Read Time:2 Minute, 58 Second

Bagi masyarakat Indonesia minum kopi sudah menjadi keseharian baik di perkotaan maupun pedesaan, mulai dari kopi hasil tanam sendiri hingga kopi di warung dan coffe shop yang menjamur di perkotaan. Namun tidak jarang muncul stigma terhadap kopi yang dikonsumsi karena dianggap dapat sebabkan orang begadang dan kurang sehat. Benarkah demikian? berikut ini adalah dua penelitian tentang pengaruh minum kopi dengan kesehatan dan usia seseorang.

Penelitian pertama, yang dipimpin oleh professor preventative medicine di USC, Wendy Setaiwan, mengungkap bahwa orang yang mengkonsumsi kopi minimal satu cangkir sehari memiliki resiko kematian lebih rendah 12 persen daripada mereka yang tak doyan menyeruput kopi. Temuan ini adalah hasil dari penelitian data yang dikumpulkan selama 16 tahun dari 185.000 responden Amerika Serikat yang berusia di atas 45 tahun.

Mereka yang meminum dua sampai tiga cangkir kopi, punya kecenderungan mengalami kematian 18 persen lebih rendah. Tak ada pengaruh berarti apakah yang diminum adalah kopi berkafien atau tidak, seperti yang dijabarkan dalam Annals of Internal Medicine.

Meski penelitian Setiawan bukan yang pertama menyangkut konsumsi kopi dengan umur panjang, penelitian ini tergolong unik karena data yang digunakan amat beragam. Sebelum riset USC dilakukan, penelitian tentang kesehatan dan kopi hanya berkutat pada responden kulit putih. Sebaliknya, dalam penelitian Setiawan, responden kulit putih hanya berjumlah 25 persen, sementara warga keturunan Jepang sebanyak 2 persen, latin 22 persen dan Afrika-Amerika 17 persen.

“Sampai saat ini, data mengenai kopi dan orang non-Kaukasia masih jarang,” ujar Setiawan.

“Namun, temuan pada orang Kaukasia juga tak bisa diterapkan pada ras lainnya. Penelitian kami menggunakan responden dari beragam etnis dan menunjukkan tingkat kematian yang juga rendah pada populasi non-kaukasia.”

Penelitian kedua yang dipublikasikan di Annals of Internal Medicine yang digagas Imperial College London semakin mengatkan temuan Setiawan.

Penelitian kedua, yang menggunakan data dari 500.000 responden berusia 35 tahun dibsepuluh negara Eropa berbeda, juga mencatat bahwa konsumsi kopi berbanding terbalik dengan resiko kematian dari beragam sebab, terutama penyakit kardiovascular. Menurut para peneliti yang terlibat, meminum tiga cangkir atau lebih kopi per hari akan memiliki korelasi dengan rendahnya resiko kematian.

Disamping itu, peneliti London Imperial sudah melakukan penelitian tambahan terhadap 14.000 invididu untuk melihat penanda biologis dalam sistem metabolisme, atau parameter biologis yang terukur yang digunakan sebagai untuk mengukur kesehatan seseorang.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa peminum kopi cenderung memiliki hati yang lebih sehat dan kontrol glukosa yang lebih baik daripada mereka enggan menyentuh kopi sama sekali.

Kendati hasil kedua penelitian ini jadi angin segar untuk pecandu kopi di luar sana, perlu diingat bahwa keduanya hanyalah penelitian observasional, bukan riset klinis. Dengan kata lain, kedua grup peneliti ini hanya menemukan korelasi yang signifikan antara kopi dan umur yang panjang. Untuk menentukan hubungan kausal dari korelasi ini, peneliti harus melakukan ujicoba klinis untuk melihat bagaimana kopi memengaruhi bagian tubuh tertentu, seperti hati misalnya.

Bagaimana pun, kedua penelitian ini bisa memberikan legitimasi statistik dalam telaah mengenai kopi dan kesehatan, yang selama ini dihantui dengan beragam dengan hasil yang bertentangan.

Misalnya, pada tahun 1991, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menengarai kopi sebagai “karsinogen” lantaran kaitannya dengan kanker kandung kemih. Dugaan ini bertahan sampai tahun 2016, ketika WHO mengoreksi pendiriannya dan mengakui bahwa kopi sejatinya bisa menurunkan potensi peminumnya menderita kanker berdasarkan riset terbaru.

“Bagi mereka yang meneliti tentang kopi di masa lalu, kedua riset ini mungkin tak terlalu besar atau analisanya ngaco hingga hasilnya sangat bertentangan,” ujar Setiawan.

“Saya berharap akan ada orang yang akan mengerjakan penelitian klinis terhadap sebuah populasi acak dan satu grup pembanding untuk melihat efek kopi pada organ tubuh seperti liver karena dalam penelitian observasional, kami hanya bisa membuktikan sebentuk asosiasi bukan hubungan sebab akibat.” jelasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Tertinggi di NTB, Terdapat 35 Ribu Rumah Tak Layak Huni di Lombok Timur
Next post Menko PMK: Nikah Dini dan Kemiskinan Penyebab Tingginya Stunting di NTB