Header AD Image

Penelitian: Remaja yang Berpacaran Lebih Cepat Stres

Bagikan Artikel
Read Time:2 Minute, 44 Second

Ketika memasuki usia remaja, seseorang akan gencar mencari jati diri dan membangun keterampilan sosialnya. Salah satunya dengan cara berkencan atau pacaran. Dari hasil penelusuran kami, ditemukan sebuah riset yang menunjukan pengaruh pacaran remaja terhadap kesehatan mental mereka.

“Mayoritas remaja memiliki pengalaman romantis pada rentang usia 15 hingga 17 tahun,” ujar Brooke Douglas, pemimpin riset tersebut.

Menurut mahasiswa doktoral bidang kesehatan di College of Public Health, Universitas Georgia itu, berpacaran di usia remaja merupakan perilaku yang normatif. Masa remaja dianggap waktu yang paling tepat untuk menjalin hubungan romantis karena bisa berpengaruh positif pada perkembangan psikologis mereka. Meski begitu, riset yang diterbitkan dalam Journal of School Health ini juga menjelaskan bahwa remaja yang tidak memiliki hubungan romantis semasa mereka duduk di bangku sekolah menengah justru memperoleh beragam keuntungan.

Misalnya, mereka tetap bisa mengasah keterampilan sosialnya dan lebih cenderung terhindar dari depresi. Artinya, dengan tidak berkencan pun mereka tetap bisa memperoleh kesenangan layaknya teman-temannya yang memutuskan untuk berpacaran.

“Apakah ini berarti bahwa remaja yang tidak berkencan tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri? Apakah itu berarti pula bahwa mereka ini canggung dan sulit bergaul? Beberapa penelitian ingin mencari tahu karakteristik dari remaja yang tidak berkencan selama masa remaja.

Douglas bersama timnya kemudian melakukan riset pada siswa kelas 10 yang mengaku jarang atau sama sekali tidak pernah kencan selama tujuh tahun. Para peneliti ingin membuktikan, apakah terdapat perbedaan karakter dan keterampilan emosional di antara mereka, jika dibandingkan dengan para remaja yang berpacaran.

Para peneliti menganalisis data yang dikumpulkan dari studi yang dilakukan sejak 2013. Responden penelitian ini adalah para remaja asal Georgia, AS, yang merupakan siswa kelas 6 hingga kelas 12.

Setiap musim semi tiba, peneliti melihat apakah siswa-siswa tersebut mulai berkencan atau tidak. Mereka juga ingin mengetahui apa saja faktor sosial dan emosional yang muncul ketika para remaja tersebut mulai berkencan, termasuk bagaimana hubungan mereka dengan keluarga dan teman-teman di sekolahnya. Peneliti pun ingin melihat apakah terdapat gejala depresi dan keinginan untuk bunuh diri selama para remaja tersebut menjalin hubungan romantis dengan pacar mereka.

Dibantu para guru yang diminta mengisi kuisioner terkait perilaku setiap siswa tersebut, tim ilmuwan berupaya mengungkap bagaimana keterampilan sosial, jiwa kepemimpinan, dan tingkat depresi masing-masing siswa.

Hasilnya, remaja yang tidak berpacaran ternyata memiliki keterampilan interpersonal yang serupa atau bahkan lebih baik dibandingkan teman-teman mereka yang lebih gemar berkencan. Di sisi lain, remaja yang memilih untuk tidak berpacaran juga memiliki hubungan yang harmonis dengan keluarga dan teman-teman sebaya mereka, sama halnya dengan yang terjadi pada remaja yang memutuskan berpacaran.

Bahkan, dari penilaian guru mereka diketahui bahwa siswa-siswa yang jomblo ini justru memiliki keterampilan sosial yang jauh lebih mumpuni dibandingkan siswa yang berpacaran. Mereka yang tidak berpacaran juga jarang mengalami depresi karena sedih atau putus asa.

“Kesimpulannya, kami menemukan bahwa siswa yang tidak berpacaran akan baik-baik saja. Dibandingkan teman-teman yang memilih pacaran, mereka lebih jarang terkena depresi sehingga tidak memiliki masalah dengan kesehatan mental,” terang Pamela Orpinas, salah satu peneliti dalam riset tersebut.

Dari hasil riset di atas diketahui bahwa potensi depresi terhadap remaja yang berpacaran lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pacaran. Hal tersebut dapat terjadi disebabkan hubungan mereka dengan pasangan yang bermasalah dapat menjadi beban fikiran serta mental. Terlebih, di usia remaja diketahui adalah usia dalam proses menemukan jati diri, sehingga akan mudah terguncang secara mental disaat menghadapi permasalahan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Para Ahli: Bad Boys Lebih Mudah Mendapatkan Pasangan
Kakek Bawa Uang Rp 43 Juta, Akhirnya Telah Pulang ke Keluarganya Next post Kakek Bawa Uang Rp 43 Juta, Akhirnya Telah Pulang ke Keluarganya