Header AD Image

Para Ahli: Bad Boys Lebih Mudah Mendapatkan Pasangan

Bagikan Artikel
Read Time:2 Minute, 50 Second

Hampir semua perempuan mengetahui jika bad boy adalah sosok yang harus dijauhi, khususnya berkaitan dengan asmara. Laki-laki dengan label ini dianggap sering melukai perasaan dengan perilakunya yang buruk. Lantas mengapa pesona bad boy sulit dihindari perempuan? berikut adalah pendapat para ahli.

“Laki-laki dengan label bad boys mengeluarkan testosteron, yang mengarah pada keberanian dan dikaitkan dengan seksualitas yang berlebihan,” jelas Michael R Cunningham Phd, psikolog di University of Louisville.

Madeleine A Fugere Phd, profesor psikologi di Eastern Connecticut State University, AS mengatakan riset membuktikan perempuan lebih tertarik pada laki-laki maskulin selama pertengahan siklus menstruasi, yang merupakan masa paling suburnya.

“Laki-laki dengan sifat yang sangat maskulin mungkin memiliki gen kualitas yang lebih baik, sehingga bisa menarik bagi perempuan pada tingkat evolusi yang tidak disadari,” ujarnya.

Namun kebanyakan perempuan sadar akan risikonya sehingga lebih cenderung mencari pasangan yang baik, jujur, dan bisa dipercaya. Jadi, secara sadar, saya pikir sebagian besar perempuan menyadari bahwa bad boys bukan pasangan jangka panjang yang ideal,” tambahnya.

“Perempuan memiliki berbagai sifat, termasuk pemberontak, yang seringkali ditekan selama masa kanak-kanak karena disosialisasikan untuk menjadi patuh dan menyenangkan” ujar Robyn McKay, Ph.D., psikolog.

“Pada dasarnya kita tertarik pada kualitas orang lain yang kita sendiri ingin miliki,” kata sosiolog dan seksolog klinis Sarah Melancon, Ph.D.

Lebih lanjut, Sarah menjelaskan, seorang ‘gadis baik’ mungkin mengagumi rasa kebebasan bad boy yang bisa membuatnya sangat menarik, dan sepadan dengan potensi rasa sakit yang muncul. Ketika dekat dengan sosok bad boy, lingkungan sekitar kita cenderung akan memberikan respon penolakan. Hal yang malah menambah daya tariknya sebagai pasangan, dibandingkan pria baik yang dianggap membosankan. Padahal, ada risiko kita akan mengalami patah hati, terluka baik fisik maupun emosional atau terlibat aktivitas yang berbahaya.

“Ketika kita menginginkan sesuatu yang tidak bisa atau tidak seharusnya kita miliki, keinginan kita untuk itu tumbuh secara eksponensial,” jelasnya.

Selain itu, perempuan yang merasa dirinya lemah dan sering terancam merasa bad boy adalah sosok yang tangguh sekaligus mampu melindungi. Hal ini khususnya karena ketidakpedulian mereka terhadap norma sosial dan kemauan untuk cepat meningkatkan frustrasi menjadi permusuhan, ancaman, dan agresi.

“Mereka ingin memiliki seseorang dalam hidup mereka yang cukup tangguh untuk menghadapi dunia dan menyerang balik bila perlu,” kata psikolog Forrest Talley, Ph.D.

Meski faktanya, agresi yang dimiliki para bad boys bisa berbalik menyerang sebagai pasangannya, yang kerap luput jadi perhatian banyak perempuan.

Dr. Cunningham mengatakan perempuan sering berusaha menjadi pemecah masalah pada hal yang menarik di sekitarnya dengan banyak keterampilan, pesona, dan daya persuasif yang dimilikinya. Akibatnya, bad boy dianggap suatu ‘proyek’ untuk diperbaiki dan diubah perilakunya.

“Jika Anda bisa meyakinkan seseorang untuk berkomitmen, itu bisa terasa seperti pencapaian yang luar biasa. Anda berpikir bahwa jika Anda bisa mendapatkannya, Anda pasti cantik, lucu, dan cukup pintar untuk memenangkan hadiah ini,” kata psikiater Dr. Margaret Seide, M.D.

Sayangnya, karena tekanan sosial, perempuan seringkali berada dalam pencarian abadi untuk validasi dan perasaan cukup yang sulit dipahami. Mengejar bad boy hanyalah contoh lain dari ini.

Dr. Feuerman menambahkan, perempuan yang jatuh cinta pada sosok laki-laki bermasalah seringkali memiliki kepribadian yang paling peduli dan mengasuh.

“Mereka ingin melihat yang terbaik dalam diri orang lain dan mengalami kesulitan untuk percaya bahwa seseorang bisa benar-benar jahat.” ungkap Feurman.

Padahal itu bisa menjadi jebakan sehingga pada akhirnya perempuan terlibat pada bad boys yang memberikan pengaruh negatif, bukan malah mengubahnya. Bahkan, ada risiko jika perempuan akan terjebak pada toxic relationship akibat niat baik yang tidak terlaksana itu.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post KNPI Lombok Tengah Hadiri Kegiatan Kepemudaan di Desa Persiapan Awang
Next post Penelitian: Remaja yang Berpacaran Lebih Cepat Stres