Header AD Image

Pengamat Ragukan Pemilu 2024 Bersih dari Politik Uang

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin dan Ekonom senior dari Universitas Indonesia Faisal Basri mengungkapkan demokrasi di Indonesia sangat sulit untuk dilepaskan dari politik uang.

Ujang yang juga Direktur Eksekutif Political Review mengungkapkan, dia pernah melakukan riset terkait perilaku pemilih dalam pemilu yang dikaitkan dengan politik uang.

“Dari riset yang sudah saya lakukan dan bisa dipertanggungjawabkan, sebagian besar pemilih justru ingin politik uang dilakukan di hari H dan bukan H-2 atau H-3. Jadi, istilah serangan fajar itu memang nyata, selama pendidikan dan pendapatan masih rendah serta penegakan hukum belum optimal, sangat sulit untuk menghilangkan politik uang dalam pemilu,” katanya, dikutip Edisi Senin (21/02/23).

Lebih jauh, menurutnya hasil penelitian Burhanuddin Muhtadi, Edward Aspinall dan Ward Berenshot menguatkan hasil risetnya, diketahui bahwa jual-beli suara di Indonesia melonjak setelah sistem daftar partai terbuka diterapkan. Hingga menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat praktik jual-beli suara tertinggi ketiga di dunia.

Sementara itu, Ekonom senior Faisal Basri mengaku pesimistis Indonesia bisa mendapatkan pemilih yang baik. Kalau pun ada, calon pemimpin itu harus mengikuti agenda yang dituntut oleh kelompok muda yang merupakan 60 persen suara pemilih pada pemilu 2024 nanti.

Faisal membayangkan akan adanya gerakan kultural seperti yang dilakukan BTS Army di Amerika Serikat sehingga membuat Donald Trump tidak berkutik di masa kampanye.

“Karena kampanye di AS itu pakai tiket, jadi semua tiket diborong oleh BTS Army hingga membuat Donald Trump shock. Di Indonesia sendiri, BTS Army kan banyak, bisa jutaan, kalau mereka merasa terancam, mereka bisa melakukan gerakan sosial. Mereka juga melakukan gerakan sosial menyelamatkan bumi dari kerusakan,” jelas Faisal.

Menurut Faisal, gerakan seperti yang dilakukan BTS Army ini bisa diterapkan untuk mendapatkan pemilu yang bersih.

Menurut informasi yang dikumpulkan Edisi, proporsi pemilih muda pada Pemilu nanti diprediksi mencapai 60 persen atau sekitar 190 juta pemilih, pemilih muda sendiri didefinisikan orang yang berusia 17-39 tahun saat pemilu tahun 2024 nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Warga Desa Kabul Kembali Geruduk Kantor Desa, Tuntut Transparansi Anggaran
Next post Jembatan Penghubung Antar Tribune Dipastikan Rampung Sebelum WSBK
https://permatajingga.com/ Slot Thailand Situs Slot