Header AD Image

Indonesia Impor 200 Ribu Ton Daging Sapi dan Kerbau Tahun Ini

Bagikan Artikel
Read Time:2 Minute, 1 Second

Menurut Kepala Badan Pangan Nasional atau Bapanas, Arief Prasetyo Adi yang dikutip Edisi, tahun ini optimalisasi stok daging dalam negeri jadi prioritas untuk memenuhi permintaan menjelang ramadhan.

Dimana akan ada 200 ribu ton daging yang akan diimpor, terdiri dari 100 ribu ton daging sapi dan 100 ribu ton daging kerbau.

Untuk penugasannya, ID FOOD akan melakukan pengadaan sekitar 100 ribu ton daging sapi dan Bulog akan melakukan pengadaan sekitar 100 ribu ton daging kerbau.

Penugasan pengadaan tersebut sesuai dengan kesepakatan Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) dan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) tingkat Menteri pada Januari lalu dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan 2023 dan penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).

“Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden RI agar Kementerian/Lembaga secara detail menghitung dan memastikan stok pangan untuk masyarakat,” ujar Arief Prasetyo AdiSabtu (25/02/23)

Pemerintah juga telah menyiapkan opsi pengadaan dari luar, mengingat berdasarkan Prognosa Neraca Pangan yang disusun Bapanas, stok awal daging nasional di Januari 2023 sebesar 56 ribu ton, sementara rata-rata kebutuhan daging nasional per bulan sebesar 67 ribu ton.

“Dari penghitungan neraca tersebut tentunya stok daging untuk memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran harus di top up agar dapat memenuhi lonjakan permintaan dan kebutuhan setelahnya,” paparnya.

Arief juga mengatakan, selanjutnya daging sapi dan kerbau tersebut akan didistribusikan dalam beberapa jenis sehingga lebih terjangkau dan masyarakat mempunyai banyak pilihan.

Pertama jenis hot meat atau daging sapi yang langsung diperoleh dari proses setelah pemotongan sapi hidup, dengan harga sekitar Rp 135 ribu-Rp 140 ribu per kg, kemudian daging sapi beku/frozen yang didatangkan dari Brazil dengan harga kurang lebih mencapai Rp 110 ribu per kg, dan daging kerbau dengan harga sekitar Rp 80 ribu per kg.

“Kita kasih pilihan, masyarakat mau pilih yang mana, daging sapi dari sapi hidup yang baru di sembelih, daging sapi frozen, daging kerbau,” lanjut Prasetyo Adi.

Selain itu,  ia juga menjelaskan bahwa daging sapi dan kerbau atau ruminansia merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang ketersediaannya masih harus ditunjang pasokan dari luar.

Menurutnya produksi dalam negeri belum bisa menutupi kebutuhan nasional. Diperkirakan tahun 2023, produksi daging ruminansia dalam negeri hanya sebanyak 404 ribu ton, sedangkan kebutuhannya sekitar 815 ribu ton. Artinya, masih banyak stok yang belum dapat terpenuhi.

“Untuk memenuhi kekurangan pasokan tersebut diperlukan pasokan luar. Langkah pengadaan dari luar inilah yang kita dorong dan percepat dari awal, disamping akan menjelang puasa dan lebaran, hal ini dilakukan agar tidak terjadi kelangkaan daging di masyarakat,” pungkasnya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Jelang Puasa, Pemerintah Impor 200 Ribu Ton Bawang Putih asal China
Next post Petaka Bonus Demografi, si Pekerja di Negara Neoliberal