Header AD Image
Ilustrasi Cerpen Karim, Karun dan Kematian

Karim, Karun dan Kematian

Bagikan Artikel
Read Time:4 Minute, 49 Second

Siapa yang tidak bersedih ditinggal mati yang terkasih? Begitu halnya Karim, setelah istri-istrinya meninggal: Istri pertamanya meninggal sekitar dua tahun setelah ia menikahinya. Kematiannya disebabkan penyakit kencing manis akut yang dideritanya, sedangkan istri keduanya meninggal lebih cepat setahun dari istri keduanya setelah Karim menikahinya juga. Istri keduanya ini mati oleh sebab yang tidak jelas.

Setelah cukup lama Karim berkabung, meratapi nasibnya. Sama halnya seperti istri pertamanya meninggal dulu, timbul hasrat dalam diri Karim ingin menikah lagi. Namun diurungkannya juga, sebab kematian-kematian itu. Karim berpikir kematian itu oleh sebab dirinya; kematian istri-istrinya, orangtuanya,  kakeknya, buyutnya, saudaranya, tetangganya, orang-orang kampung, pokoknya kematian orang-orang yang selama hidup mereka sempat ia kenal. Kematian-kematian itu membuatnya yakin: Karim sendirilah yang mengundang kematian itu.

Untung saja ada Karun, kucing kesayanganya itu, yang membikin kegelisahan Karim lamat-lamat memudar. Dengan adanya Kucing itu, paling tidak Karim dapat sedikit melupakan kematian-kematian itu.

Tidak ada yang mengetahui kenapa Karim menamai kucing itu dengan nama Karun, agak mirip namanya, bisa jadi saja agar makin disayangnya. Entah lah, yang jelas kucing itu sebelumnya adalah kucing yang menyedihkan, sama menyedihkannya dengan Karim. Dulunya kucing hitam itu buruk rupa; tubuhnya kurus-kering, di beberapa bagian ada bekas luka, kedua matanya hampir dipenuhi belek, di anusnya masih melekat-lekat tahinya, dan juga sangat bau.

Mulanya Karim tidak menghiraukan kucing itu, yang acap kali mondar-mandir dan mengeong-ngeong di depan rumahnya. Hingga suatu hari kucing itu masuk ke dalam rumahnya, seperti kelakukan kucing biasanya, kucing itu sekonyong-konyongnya menuju dapur, ia meloncat ke atas meja makan, menyantapi potongan ikan tongkol yang diwadahi piring itu dengan lahap. Hingga kucing itu tak sengaja menjatuhkan wadah ikan tongkol itu, membuatnya berserakan di lantai, suaranya juga mengagetkan Karim. Lantas ia ke arah suara, alangkah terkejutnya Karim mendapati seekor kucing sedang enak-enaknya memakan lauk makan siangnya itu. Dengan sejadi-jadinya, diayunkan kakinya untuk menendang kucing itu, kucing itu terpelanting jauh, ia sempat mengeong kesakitan hingga tak bersuara lagi.

Karim sebentar memandangi kucing yang tergeletak itu, lantas terlintas dalam benaknya akan kematian-kematian itu: kematian istri-istrinya, orangtuanya, kakeknya, buyutnya, saudaranya, tetangganya, orang-orang kampung, atau kematian orang-orang yang selama hidup mereka sempat ia kenal.  Karim berpikir kucing itu telah mati, ia mendekatinya, menggerak-gerakan tubuh kucing itu dengan kakinya, dan untungnya ia masih merasakan kehidupan di perutnya yang masih berdenyut-denyut itu. Lantas Karim mengambilakan pakaiannya, kemudian menyelimuti kucing itu. Karim menyesal telah melakukannya.

Semenjak saat itu, kucing itu dirawat Karim dengan kasih sayang, seperti ia merawat istri-istrinya ketika mereka sedang mendekati ajal dulu itu. Karim memamakani, meminumi, memandikannya, juga menidurkan kucing itu di sampingnya, hingga kucing itu benar-benar pulih.

Karun menemani hari-hari Karim, juga kedekatannya dengan Karun, membikin lamat-lamat ia menyayangi kucing itu sama seperti ia menyangi istri-istrinya dulu. Hal itu juga yang membuat Karim sedikit melupakan kematian-kematian istri-istrinya, juga kematian-kematian lainnya yang oleh sebab dirinya itu.

“Saya sangat merindukan Janah. Run,” Ucap Karim sesekali-kali yang sedang mengingat mendiang istrinya itu sambil mengelus-elus tubuh Karun. Karun mengeoeng-ngeong paham akan kesedihan tuannya itu.

“Oh Sayuti. Kekasihku,” lanjut Karim ingat juga akan mendiang isti keduanya itu. Tiba-tiba Karun melejit lari, setelah ia mendengar suara geruduk tepat di atas plafon rumah itu, lalu tampak Karun meloncat ke atas lemari, dan kembali meloncat ke atas plafon itu, kemudian kembali-balinya Karun membawa seekor tikus dengan mulutnya. Tikus itu pun diletakanya di hadapan Karim, ia ingin berbagi hasil burunya kepada Tuannya itu. Sedang karim tampak tersenyum-senyum dengan hal itu.

Hari-hari berlalu, Karim menyayangi Karun, bisa jadi lebih dari ia menyayangi dirinya sendiri, lihat saja Karun yang terus bertubuh gemuk dan sehat-sehat itu. Akan tetapi pernah juga suatu ketika Karim dibuat sedih oleh Karun. ketika Karun tidak pulang-pulang ke rumah Karim.  Karim mencari-carinya ke sana-kemari, di sudut-sudut rumahnya,  hinggga di sudut-sudut rumah tetangganya, mengitari desanya, bahkan hingga Karim mencarinya ke Desa Sebelah. Namun masih saja Karun tidak dapat ditemukan, Karim putus asa. Ia kembali ke rumahnya dengan wajah sendu, ia tidak bergairah lagi.

Namun untung juga, tidak lama setelah itu. Ia mendapati Karun mengeong-ngeong di atas plafon rumahnya. Rupanya Karun tidak dapat turun dari atas plafon karena Karim pagi-pagi tadi telah memindahkan lemari itu. Lantas Karun mengambil tangga dan menurunkan Karun. Mata Karim berkaca-kaca, ia tersenyum semringah. Ia memeluk-meluk Karun. Dirasakannya kembali ketentraman dalam dirinya. Karim mengajak Karun bercakap-cakap dan sesekali menciumnya.

Hingga  semuanya benar-benar berubah, ketika Karun mati oleh sebab yang tidak jelas. Karim bersedih sejadi-jadinya seperti ia ditinggal mati istri-istrinya, juga kematian-kematian lainnya. Sebelum Karun mati, Karun memang sering menampakkan keanehan, ia lebih suka menyendiri, tak bergairah meski Karim beberapa kali mencoba menggodanya, hingga suatu hari ia menemukan Karun tidak bernyawa lagi. Karim menguburkan kucing itu tepat di samping rumahnya, tampak air mata kesedihan Karim tak henti-hentinya menetes. Hingga setalah cukup lama berkabung, Karim memutusakan untuk memelihara kucing lagi. Ia pergi ke tempat penjual kucing, dan memilih kucing yang berwarna hitam, yang hampir mirip dengan Karun. Ia merawat kucing itu dengan penuh kasih sayang; memakani, meminumi, dan meniduri kucing itu di sampingnya.

Karim tampak berbahagia, namun hanya sebentar. Nasib kucing itu sama saja dengan nasib Karun, bahkan kucing itu mati sebelum seminggu berada di rumah Karim. Kematiannya juga oleh sebab yang tak jelas. Karun kembali bersedih, namun ia mencoba memelihara kucing lagi dan lagi hingga ia kapok. Kucing-kucing itu sama saja -tak ada yang berumur panjang. Hingga suatu hari timbul hasrat Karim ingin kembali memiliki istri, dan Benar, tak lama Karim menikah. Namun tak lama Karim yang mati.

 

Samsul Kamar (Penulis) lahir dan besar di Jonggat, Lombok Tengah. Tulisan pertamanya sebuah novel berjudul Jejak Samalas (2020). Saat ini bergiat di komunitas Ngelamang dan Teater.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Riset Menunjukan Orang Jomblo Lebih Cepat Meninggal
Polisi Bekuk Pengedar Sabu di Praya Lombok Tengah, Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara Next post Polisi Bekuk Pengedar Sabu di Praya Lombok Tengah, Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara