Header AD Image

Kakak Kandung Korban Gempa Turki asal Lombok Mengaku Sempat Berfirasat Buruk

Bagikan Artikel
Read Time:2 Minute, 25 Second

Lombok Barat – Kasdianto (37) Kakak dari korban gempa di Turki yakni Irma Lestari (34), warga Desa Parampuan, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, sempat berfirasat buruk sebelum terjadinya gempa.

Bahkan firasat itu mulai muncul setelah mengetahui adik kandungnya itu pindah bekerja ke Kota Dyarbakir.

Kasdiono juga sempat merasakan ada hal aneh atas kepindahan Irma itu sejak 40 hari sebelum terjadinya gempa 7,8 magnitudo itu.

“Saya waktu gempa itu sedang di Sumbawa. Sebelum pulang itu punya firasat tidak baik,” kata Kasdiono, Minggu (19/2/2023) kemarin.

Tidak hanya itu, setelah mengetahui informasi adanya gempa besar yang melanda beberapa wilayah di Turki, dirinya langsung mencari tahu keberadaan adiknya.

“Posisi Irma di provinsi mana? Saya belum tahu. Saya belum sempat tanya dia tinggal di mana,” ucap Kasdiono.

Bukan hanya itu, setelah kembali dari Sumbawa ke Lombok Barat, Kasdiono pun langsung mencari informasi tentang gempa bumi yang melanda Turki.

Bahkan dia juga sempat mencari informasi melalui berita di laman google. Selain itu, dirinya juga sempat menanyakan perihal itu ke wilayah Kelurahan Gegutu Mataram.

Karena dia mendengar informasi bahwa di sana ada yang meninggal di Turki.

“Saya ke sana ternyata bukan karena gempa tapi meninggal di Turki dan tinggal di sana,” sebutnya.

Setelah itu, pada Selasa (7/2) Kasdiono langsung menghubungi Irma via WhatsApp pribadinya. Namun, telepon Kasdiono dan pesannya tidak mendapatkan respon Irma saat itu.

“Saya WhatsApp dia. Tidak ada respon sampai ada kabar dia meninggal,” terang Kasdiono.

Pada hari Rabu (8/2) Kasdiono menanyakan lokasi kepindahan Irma di Turki kepada ibunya Erna (55) di Gianyar Bali.

Setalah mengetahui Irma pindah ke Kota Dyarbakir langsung merasa lemas dan kaget.

“Nah saya coba cari di google lagi ternyata kota itu kena juga. Makanya saya kaget, mudahan adik saya selamat. Waktu itu saya sempat cari informasi belum ada yang valid,” tutur Kasdiono.

Desas-desus bahwa Irama menjadi korban gempa Turki pun kian menguat setelah beberapa rekan Irma di Turki memberi kabar bahwa dia sedang dirawat di salah satu Rumah Sakit.

Setelah itu, Kasdiono bersama keluarga berunding mencari kebenaran berita tersebut.

“Nah kemarin saya dapat info dia ditemukan di mayat terkahir di apartemen itu,” kata Kasdiono.

Tidak lama kemudian, Dubes Republik Indonesia untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal menghubungi pihak keluarga bahwa benar Irma Lestari menjadi salah satu WNI yang tertimbun bangunan apartemen di Kota Dyarbakir.

“Pak Dubes sudah konfirmasi duluan kalau Irma memang meninggal. Kemarin saya dapat info jam 7 malam. Sudah disolatkan di Dyarbakir waktu setempat sama Dubes,” ujarnya.

Peristiwa ini pun kembali dirundingkan Kasdiono sebagai kakak tertua bersama keluarga di Lombok Barat.

Hampir semua keluarga yang mendengar kabar nahas itu, menganggap sebagai sebuah takdir Ilahi.

“Sudah 11 hari. Pak Dubes yang memberi informasi yang jelas kebenarannya dia meninggal,” kata Kasdiono.

Kasdiono juga mengungkapkan bahwa adiknya itu memiliki keinginan untuk membelikan ayahnya kendaraan roda dua untuk keperluan bekerja di Lombok Barat.

“Mau patungan beli motor sama bapak di rumah. Sempat minta itu 40 hari sebelum gempa di Turki,” pungkas Kasdiono.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous post Kemiskinan di NTB Meningkat Hingga 10 Ribu Orang Dalam Setahun
Next post Keluarga Korban Gempa Turki Minta Irma Lestari Dimakamkan di Lombok Barat